Minggu, 09 Februari 2014

Semiotika Musik

[08.04, 16/5/2026] Widiana: A. PENDAHULUAN 1. Riwayat Claude Levi Strauss Claude Levi Strauss lahir 28 November 1908 meninggal 30 Oktober 2009 pada umur 100 tahun adalah antropolog dan etnolog Prancis, dan disebut sebagai “bapak antropologi modern”. Dia berpendapat bahwa “pikiran primitif” memiliki struktur yang sama dengan pikiran yang “beradab” dan bahwa ciri-ciri manusia itu sama saja di mana-mana. Pengamatannya ini berpuncak pada bukunya yang terkenal, Tristes Tropiques, yang menempatkan dia sebagai tokoh utama dalam aliran pemikiran strukturalis, tempat di mana gagasan-gagasannya menjangkau berbagai bidang, termasuk semiotika, humaniora, sosiologi dan filsafat. Strukturalisme didefinisikan sebagai “pencarian pola-pola pikiran tersembunyi di dalam segala bentuk kegiatan manusia”. Dia telah menerima kehormatan dari berbagai universitas di seluruh dunia dan memimpin Antropologi Sosial di Collège de France (1959-1982). Dia terpilih sebagai anggota Akademi Prancis atau Académie Française pada 1973. 2. Dua Artikulasi dalam Bahasa Pernyataan Levi Strauss yang menyatakan bahwa tanda-tanda musik memiliki dua artikulasi seperti dalam bahasa juga didukung oleh para ahli semiotic lainnya, yaitu Nattiez. Untuk itu kita coba membahas terlebih dahululu pada bagian 4.1 yaitu tentang double articultion dalam bahasa yang pada bagian ini dijelaskan oleh Mattinez (1949:80) sebagai berikut; “The principle of double articultion or duality of patterning has often been considered to be the principlal or even the single distinguishing feature of human leaguage” “Prinsip dari dua artikulasi atau dualitas pola kerap kali menjadi pokok utama atau satu-satu keistimewaan pembeda yang sama dari bahasa manusia” Dalam penuturan Martinez di atas menjelaskan bahwa dua artikulasi menjadi keistimewaan pembeda dari bahasa manusia hingga kini dalam bahasa, dikenal morfem, fonem serta fonetik dan fonemik. Untuk lebih menjelaskan konsep Fonologi bidang linguistik yg menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya mendefinisikan morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil (kata) yg mempunyai makna secara relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yg lebih kecil, Fonem adalah satuan bunyi terkecil yg mampu menunjukkan kontras makna (misal /h/ adalah fonem karena membedakan makna kata harus dan arus, /b/ dan /p/ adalah dua fonem yg berbeda karena bara dan para berbeda maknanya). Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyian ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia. Fonemik adalah ilmu yang mempelajari bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti. Jika dalam fonetik kita mempelajari segala macam bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu diproduksi, maka dalam fonemik kita mempelajari dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan, bunyi-ujaran yang manakah yang dapat mempunyai fungsi untuk membedakan arti. Hal senada juga diutarakan oleh Bruno Nettl tentang pendekatan transkripsi musik dalam buku Theory and Method in Ethnomucology (1963:104), sbb: “The problem is similar to one linguistics, where the distinction between phonetics and phonemics has long been recognized, the former being the study of speech sound as they occur and the latter being concerned with distinctions among speech sound which produce, in a given language, distinctions in meaning” “Masalah yang sama dengan ilmu bahasa dimana perbedaan antara fonetik dan fonemik telah lama dikenal, yang pertama studi tentang bunyi ujaran, hal ini menjadi koncern perbedaan antara bunyi ujaran yang menghasilkan bahasa tertentu, serta perbedaan arti” Menurut Bruno Nettl (1963:98) menjelaskan dua pendekatan utama untuk mendeskripsikan musik, yaitu: a. Kita dapat menganalisis dan menggambarkan apa yang kita dengar, dan b. Kita dapat dengan beberapa cara menuliskan diatas kertas apa yang kita dengar, serta menjelaskannya. 3. Transkripsi dan Artikulasi dalam Musik Dalam etnomusikologi, proses penotasian bunyi, reduksi bunyi, menjadi simbol visual disebut transkripsi. Artikulasi notasi balok dengan nada mutlak maupun menggunakan notasi relatif berhubungan dengan “pitch” dan “duration” sumber suara dari alat musik (instrumen maupun vokal) yang dimainkan, kama dalam kontek penotasian musik menurut Seeger (1958) ada dua permasalahan yaitu: a. Perskriptip yaitu Tujuan yang mengarah pada pemain, dan pandangan kelayakan notasi perskriptip dinilai dari ketepukan notasi tersebut terhadap penampilan pemain, atau sejauhmana seorang pemain merasakan melalui notasi keinginan sang komposer b. Deskriptif yaitu notasi yang dimaksudkan untuk menyampaikan kepada pembaca karakteristik dan detail dari komposisi musik yang pembaca tidak ketahui. Transkripsi/Penotasian musik barat menggunakan notasi balok dalam kenyataannya memang memiliki dua artikulasi. Penyebutan untuk notasi musik digunakan dengan nada mutlak dan juga nada relatif Do. artikulasi nada mutlak dalam musik menggunakan huruf, yaitu dari huruf “A” sampai dengan huruf “G”, sedangkan penyebutan untuk nada relatif do yaitu yang dikenal dengan sebutan solmisasi yaitu do-re-mi-fa-sol-la-si-do. Artikulasi solmisasi diperkenalkan oleh seorang pendeta benedictine juga seorang master paduan suara yang menjadi salah satu tokoh penting dalam pengembangan teori musik, nama lengkapnya Guido d’ Arezzo atau Guido di Arezzo. Dia lahir tahun 995 dan meninggal pada tahun 1050, namun mengenai tempat kelahiran terdapat perbedaan pendapat dari para ahli sejarah. Namun para sejarahwan sebagian besar berpendapat dia dilahirkan di Prancis. Dalam ensiklopedia musik karya Norman Lloyd (1968:219) menjelaskan Guido dalam menyusun solmisasi mengambil dari suku kata pertama dari bahasa latin dan merubah suku pertama yang sebelumnya “ut” dirubah menjadi “do”,sbb: “More than nine hundred year ago he taught his singers to slight read by using syllables. He extracted his syllable names from a hymn to St. John-which was eigth century song on the feast of Saint John the Baptist, june 24, in this song beginning notes of each phrase move up the first six notes of the C major scale. The latin syllable that was sung with the note become the name of that note. Ut was later changed to doh, and si was added a century later to complete this scale”. Lebih dari sembilan ratus tahun lalu dia memiliki ide pada para penyanyinya untuk membaca menggunakan suku kata. Dia mengambil suku kata dari sebuah himne dari St. John yang di abad kedelapan menyanyikan lagu untuk pesta saat St. John di Baptis pada bulan Juni. Lagu ini dimulai untuk tiap frase bergerak naik sampai keenam pertama dari tangganada C mayor. Suku kata dari bahasa Latin yang dinyanyikan menggunakan not menjadi nama/sebutan dari solmisasi. Ut sebagai suku kata pertama di rubah menjadi “doh”, dan dia menambahkan di abad berikutnya dengan melengkapi tanqganada ini. Lebih jelasnya asal muasal artikulasi solmisasi Guido de Arezzo tampak pada gambar dibawah ini: (Masukkan gambar notasi lagu Ut queant laxis) Solmisasi Guido de Arezzo memang diperuntukkan untuk latihan vokal, dan suku kata yang digunakan memang cocok untuk melatih pelafalan huruf hidup o yaitu Doh, e yaitu Re, I yaitu Mi, a yaitu Fa, dst, dan berikurnya Guido melengkapi untuk satu oktaf tangganada yaitu menambah suku kata si, dan artikulasi untuk relatif do selalu berubah, seperti contoh berikut: (Masukkan gambar: Artikulasi Solmisasi C-do) (Masukkan gambar: Artikulasi Solmisasi D-do) Notasi musik menggunakan tanda dan simbol-simbol dalam penulisannya, seperti yang ditulis Norman Lloyd (1968:356), dalam The Golden Encyclopedia of Music, sbb; “Notation of music the use of signs and symbols on the writing of music. Music is form of language with its own ABC’s-note. Each note tells how high the musical sound should be (pitch) and how long it should last (musical timing)” “penotasian musik menggunakan simbol-simbol dalam penulisannya. Musik terbentuk dari bahasa dengan penggunaan not ABC. Tiap note memiliki makna seberapa tinggi bunyinya, dan berapa panjang durasinya” Dalam notasi mutlak possi nada tiap tidak berubah posisinya, seperti contoh di bawah ini: (Masukkan gambar: Notasi mutlak C D E F G A B C) Simbol-simbol musik dituliskan pada staff, yaitu lima buah garis yang sejajar dengan empat buah spasi seperti gambar sbb: (Masukkan gambar: Garis dan Spasi) Simbol notasi balok yang dituliskan pada staff tidak akan memiliki arti apapun jika pada staff tersebut tidak dituliskan tanda kunci. Jadi tanda kunci memiliki arti yang sangat penting untuk mengartikuliskan nada dengan penyebutan nama nada tersebut serta frekwensinya. Seperti yang dijelaskan dalam buku ensiklopedia musik (Norman Llyod:1968:114),sbb: “Clef a sign placed at the begining of each musical to indicate the pitch of the notes. Without a clef, a note on a staff has no meaning: this could B, D, C, or A”. Dalam musik dikenal tiga buah tanda kunci Sbb: a. Kunci “G” atau disebut juga “Treble Clef” (Masukkan gambar: Simbol kunci G) Artikulasi nada-nada dalam kunci G adalah: E G B D F / F A C E b. Kunci “F” atau disebut juga “Bass Clef” (Masukkan gambar: Simbol kunci F) Artikulasi nada-nada dalam kunci F adalah: G B D F A / A C E G c. Kunci “C” memiliki tiga bentuk penempatan penulisan dalam staff, sesuai dengan peruntukan sopranno, alto dan tenor, sbb: (Masukkan gambar: Simbol kunci C) Simbol-simbol yang digunakan dalam notasi musik yang biasa disebut not dan tanda istirahat, dan masing-masing bentuk memiliki nilai durasi yang relatif, yanq di pengaruhi oleh tanda birama , sbb: (Masukkan gambar: Nilai Not) (Masukkan gambar: Tanda Istirahat) 4. Dua Artikulasi Dalam Musik Notasi musik menggunakan tanda dan simbol-simbol dalam penullisannya, seperti yang ditulis Norman Lloyd (1968:356), dalam The Golden Encyclopedia of Music, sbb; “Notation of music the use of signs and symbols on the writing of music. Music is form of language with its own ABC’s-note. Each note tells how high the musical sound should be (pitch) and how long it should last (musical timing)” “penotasian musik menggunakan simbol-simbol dalam penullisannya. Musik terbentuk dari bahasa dengan penggunaan note ABC. Tiap note memiliki makna seberapa tinggi bunyinya, dan berapa panjang durasinya” Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa memang benar bahwa musik memiliki dua artikulasi. Yang dimaksud dua artikulasi dalam musik ini bukan artikulasi solmisasi yang menggunakan do, re, mi, dst, dengan artikulasi notasi mutlak yang menggunakan alfabet A B, C, dst, tetapi simbol musik selain memiliki artikulasi dengan solmisasi ataupun notasi mutlak, juga memiliki artikulasi yang lain yaitu yang dikenal dengan sebutan “pitch” dan “duration”. Pengertian pitch menurut buku “Rudiments and Theory of Music ” yang diterbitkan Royal Schools of Musik London (1958:1), sbb: “The word pitch is use to describe how high or how low a sound is” Kata pitch digunakan untuk menggambarkan seberapa tinggi atau seberapa rendah dari sebuah bunyi nada” Pitch menurut buku ensiklopedia musik (1968:430), sbb: “pitch the higness or lowness of a sound. Pitch is determined by frequency of vibration- that is, how many getaran per detik terjadi, semakin tinggi frekwensinya semakin tinggi pula nada yang dihasilkan”. “Pitch adalah tinggi rendahnya suatu bunyi. Pitch ditentukan oleh frekuensi getaran – yaitu berapa banyak getaran per detik yang terjadi, semakin tinggi frekuensinya maka semakin tinggi pula nada yang dihasilkan [08.04, 16/5/2026] Widiana: DAFTAR PUSTAKA Lloyd, Norman. (1968). The Golden Encyclopedia of Music. New York: Doubleday & Company, Inc. Nettl, Bruno. (1963). Theory and Method in Ethnomusicology. New York: The Free Press of Glencoe. Royal Schools of Music London. (1958). Rudiments and Theory of Music. London: The Associated Board of the Royal Schools of Music. Strauss, Claude Lévi. (1955). Tristes Tropiques. Paris: Librairie Plon. Martinez, José. (1949). General Linguistics. Madrid: Editorial Gredos.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar